ACT TOGETHER
Selasa, 28 Juli 2015
Senin, 07 April 2014
Metode dan Keterampilan Dasar Mengajar
METODE DAN KETERAMPILAN DASAR
MENGAJAR
MAKALAH
Disusun dan disampaikan untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Strategi Belajar dan Mengajar
Dosen
Pengampu : Chusna Maulida, M.Pd.I
Oleh:
Iswatikah
2021111189
Kelas D
TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
Metode mengajar memegang peran yang
sangat penting. Hal ini dikarenakan sangat mempengaruhi tujuan pelajaran yang
akan diajarkan. Pemilihan metode juga harus diperhatikan. Harus disesuaikan
dengan pelajaran apa yang akan diajarkan, suasana dan kondisi di kelas,
fasilitas yang tersedia dan dimana kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Keterampilan guru dalam mengajar juga ikut berperan penting dalam mewujudkan kegiatan
belajar mengajar yang efektif.
Untuk itu, dalam makalah ini dibahas
mengenai metode dan keterampilan dasar mengajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Metode Mengajar
1.
Pengertian
Metode Mengajar
Metode berasal
dari bahasa Yunani, yaitu metha yang berarti melalui atau melewati dan hodos
yang berarti jalan atau cara.[1] Dalam pemakaian yang umum,
metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai
tujuan tertentu. Kata mengajar sendiri berarti memberi pelajaran. Jadi, metode
mengajar adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.[2]
Pengertian lain,
metode mengajar adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau
menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual
atau secara kelompok, agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan
dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.[3]
2.
Kedudukan
Metode dalam Belajar Mengajar
a.
Metode sebagai
alat motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik menurut Sadirman A.M.
(1988:90) adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya
perangsang dari luar. Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang yang
dapat membangkitkan belajar seseorang.
b.
Metode sebagai
strategi pengajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Dra.
Roestiyah N.K. (1989:1), guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat
belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Metode
mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang
diharapkan.
c.
Metode sebagai
alat untuk mencapai tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan
dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan adalah pedoman yang memberi
arah kemana kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Metode adalah salah satu alat
untuk mencapai tujuan. Dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan
mampu mencapai tujuan pengajaran.[4]
3.
Faktor-Faktor
yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih dan Mengaplikasikan Metode Pengajaran
a.
Tujuan yang
hendak dicapai
b.
Kemampuan
pendidik
c.
Peserta didik
d.
Situasi dan
kondisi dimana berlangsung
e.
Fasilitas
f.
Waktu yang
tersedia
g.
Kebaikan dan
kekurangan sebuah metode.
4.
Macam-Macam
Metode Belajar Mengajar
a.
Metode belajar
mengajar konvensional
Metode ini adalah metode yang biasa
dipakai guru pada umumnya atau sering dikenal sebagai metode tradisional.
Metode konvensional meliputi:
1)
Metode
pembiasaan
Metode ini mengutamakan proses untuk
membuat seseorang menjadi terbiasa.
Kelebihan:
menghemat tenaga dan waktu.
Kekurangan:
membutuhkan guru yang dapat dijadikan teladan dalam menanamkan nilai-nilai
kepribadian anak didik.
2)
Metode
keteladanan
Metode ini digunakan untuk
mewujudkan tujuan pengajaran dengan memberi keteladanan yang baik pada siswa
agar dapat berkembang fisik, mental dan kepribadiannya secara benar.
Kelebihan:
peserta didik lebih mudah menerapkan ilmu yang dipelajari di sekolah, guru
lebih mudah mengevaluasi hasil belajar, tujuan pendidikan lebih terarah dan
tercapai dengan baik, tercipta hubungan baik antara siswa dan guru, mendorong
guru untuk selalu berbuat baik untuk dicontoh oleh siswanya.
Kekurangan:
adanya guru yang tidak mencerminkan sikap mentalitas dan moralitasnya dihadapan
siswa, sehingga anak didik tidak menunjukkan motivasi belajar, dan cenderung
berlawanan dengan tata tertib sekolah.
3)
Metode
penghargaan
Metode ini mengedepankan kegembiraan
dan positif thinking, yaitu memberikan hadiah kepada anak didik, baik
yang berprestasi akademik maupun yang berperilaku baik.
Kelebihan:
mampu menciptakan kompetisi yang obyektif peserta didik untuk melakukan hal-hal
yang positif, dapat menjadi motivasi siswa lainnya untuk belajar lebih giat
lagi.
Kekurangan:
apabila guru berlebihan dalam melaksanakannya dapat mengakibatkan siswa besar
kepala, sombong dan merasa dirinya lebih baik dan lebih tinggi dari teman-teman
lainnya.
4)
Metode hukuman
Metode ini merupakan lawan dari
metode pemberian hadiah. Pelaksanaannya adalah sebagai jalan terakhir dengan
prinsip tidak menyakiti secara fisik, melainkan bersifat akademik dan edukatif
dengan tujuan menyadarkan siswa dari kesalahan yang diulang-ulang.
Kelebihan:
memperbaiki kesalahan siswa, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Kekurangan:
jika hukuman yang diberikan tidak bersifat akademik, maka akan mengakibatkan
emosional anak didik, anak takut, kurang percaya diri, malas, dan mengurangi
keberanian siswa untuk mengeluarkan pendapat.
5)
Metode ceramah
Adalah cara penyajian pelajaran yang
dilakukan dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap
siswa.
Kelebihan:
guru mudah menguasai kelas, dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar, guru
mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
Kekurangan:
bila selalu digunakan dan terlalu lama menjadi membosankan, menyebabkan siswa
menjadi pasif.
6)
Metode latihan
Adalah suatu cara belajar untuk
menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Kelebihan:
dapat memperoleh kecakapan motoris, dapat memperoleh kecakapan mental, dapat
membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
Kekurangan:
menghambat bakat dan inisiatif anak didik, latihan yang dilaksanakan secara
berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
7)
Metode
bercerita
Adalah suatu cara mengajar dengan
bercerita. Salah satu metode cerita adalah membaca cerita.
Kelebihan:
guru mudah menguasai kelas, guru dapat meningkatkan konsentrasi anak didik
dalam waktu yang relatif lama, dapat diikuti oleh anak didik dalam jumlah
banyak.
Kekurangan:
anak didik kadang terbuai dengan jalan cerita sehingga tidak dapat mengambil
intisarinya, anak didik lebih cenderung hafal isi cerita daripada intisarinya.
8)
Metode tanya
jawab
Adalah suatu cara penyajian bahan
pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik atau
anak didik yang bertanya kepada guru.
Kelebihan:
pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, merangsang siswa untuk
melatih dan mengembangkan daya pikir, mengembangkan keberanian dan keterampilan
siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
Kekurangan:
siswa merasa takut, tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat
berfikir dan mudah dipahami siswa, waktu sering banyak terbuang.
9)
Metode
demonstrasi
Adalah cara penyajian pelajaran
dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,situasi,
atau benda tertentu yang sedang dipelajari.
Kelebihan:
dapat membuat pelajaran menjadi lebih jelas, proses pengajaran lebih menarik.
Kekurangan:
memerlukan keterampilan guru secara khusus, memerlukan fasilitas seperti
tempat, peralatan dan biaya.
10)
Metode
karyawisata
Adalah suatu cara penguasaan bahan
pelajaran oleh anak didik dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang
terdapat di luar kelas atau lingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat
mengamati secara langsung.
Kelebihan:
membuat bahan yang dipelajari menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan
kebutuhan yang ada di masyarakat.
Kekurangan:
memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak, memerlukan persiapan dan
perencanaan yang matang, biaya cukup mahal.
11)
Metode diskusi
Adalah cara penyajian pelajaran,
dimana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan
yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
Kelebihan:
merangsang kreativitas anak didik dalam bentuk ide dan gagasan, memperluas wawasan.
Kekurangan:
pembicaraan terkadang menyimpang sehingga memerlukan waktu yang lama, mungkin
dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
12)
Metode
eksperimen
Adalah metode pengambilan kesempatan
kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu
proses atau percobaan.
Kelebihan:
dapat membuat anak didik lebih percaya kebenaran berdasarkan percobaannya
sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku, akan terbina manusia yang
dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil
percobaannya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Kekurangan:
tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan
mengadakan eksperimen.
13)
Metode proyek
Adalah cara penyajian pelajaran yang
bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang
berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.
Kelebihan:
dapat memperluas pemikiran siswa yang berguna dalam menghadapi masalah
kehidupan; dapat membina siswa dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap
dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari secara terpadu.
Kekurangan:
kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini, baik secara vertikal maupun
horisontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini; bahan pelajaran sering
menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
14)
Metode tugas
dan resitasi
Adalah metode penyajian bahan dimana
guru memberikan tugas tertentu agar siswa melekukan kegiatan belajar.
Kelebihan:
lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individualataupun
kelompok, dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru, dapat
membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
Kekurangan:
siswa sulit dikontrol, apakah benar ia mengerjakan tugas sendiri atau orang
lain; khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan adalah
anggota tertentu saja.
15)
Metode problem
solving
Metode problem solving (metode
pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan
suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan
metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik
kesimpulan.
Kelebihan:
metode ini dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan
kehidupan, khususnya dengan dunia kerja; metode ini merangsang pengembangan
keampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh.
Kekurangan:
memerlukan waktu yang cukup banyak.
16)
Metode
sosiodrama
Sosiodrama pada dasarnya
mendramatisasikan tingkah laku dalam hubunganya dengan masalah sosial.
Kelebihan:
siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif, siswa memperoleh
kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan temannya, bahasa
lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang
lain.
Kekurangan:
banyak memakan waktu, memerlukan waktu yang cukup luas, sering kelas lain
terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk
tangan.
b.
Metode belajar
mengajar inkonvensional
Metode mengajar inkonvensional adalah
suatu metode mengajar yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern, seperti: metode pengajaran modul, pengajaran berprogram,
pengajaran unit, metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), metode KBK (Kurikulum
Berbasis Kompetensi), dan metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).[5] Dan saat ini yang masih
baru dan belum dilaksanakan secara keseluruhan adalah kurikulum 2013.
B.
Keterampilan
Dasar Mengajar
Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan yang mutlak harus
guru punyai. Dengan kepemilikan keterampilan dasar mengajar diharapkan guru
dapat mengoptimalkan perananya di kelas.
Beberapa keterampilan dasar mengajar yang
harus dikuasai oleh guru adalah sebagai berikut:
1.
Keterampilan
Memberi Penguatan (Reinforcement)
Dalam kehidupan
sehari-hari kita mengenal adanya hadiah. Pemberian hadiah secara psikologis
akan berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang yang menerimanya. Pemberian
hadiah maupun pemberian hukuman merupakan respon seseorang kepada orang lain
karena perbuatannya. Hanya saja, pada pemberian hadiah adalah respon yang positif, sedangkan pada pemberian
hukuman adalah respon yang negatif. Namun, kedua respon tersebut memiliki
tujuan yang sama yaitu ingin mengubah tingkah laku seseorang. Pemberian respon
yang demikian dalam proses interaksi edukatif disebut “pemberian penguatan”,
karena hal tersebut akan membantu dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Dengan kata lain, pengubahan tingkah laku siswa (behavior modification)
dapat dilakukan dengan pembrian penguatan.
2.
Keterampilan
Bertanya
Bagaimanapun
tujuan pendidikan, secara universal guru akan selalu menggunakan keterampilan
bertanya kepada siswanya. Cara bertanya untuk seluruh kelas, untuk kelompok,
atau untuk individu memiliki pengaruh yang sangat berarti, tidak hanya pada
hasil belajar siswa, tetapi juga pada suasana kelas baik sosial maupun
emosional.
Kelancaran
bertanya (fluency) merupakan jumlah pertanyaan yang secara logis dan
relevan diajukan guru kepada siswa di dalam kelas. Kelancaran bertanya ini
sangat diperlukan guru didalam proses belajar mengajar. Komponen yang penting
dalam bertanya antara lain harus jelas dan ringkas.
3.
Keterampilan
Variasi
Bila guru dalam
proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi, maka akan membosankan siswa,
perhatian siswa akan berkurang, mengantuk, akibatnya tujuan belajar tidak
tercapai.
keterampilan
mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya,
karena merupakan keterampilan campuran atau intregasi dengan keterampilan yang
lain. Misalnya variasi dalam memberikan penguatan, variasi dalam memberi
pertanyaan, dan variasi dalam tingkat kognitif.
4.
Keterampilan
Menjelaskan
Guru menggunakan
istilah menjelaskan untuk penyajian lisan di dalam interaksi edukatif. Dalam
kehidupan sehari-hari istilah menjelaskan diartikan sama dengan menceritakan.
Keberhasilan guru menjelaskan ditentukan oleh tingkat pemahaman anak didik.
5.
Keterampilan
Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan
membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan siap mental dan menimbulkan
perhatian anak didik agar terpusat pada apa yang dipelajari. Sedangkan menutup
pelajaran adalah mengakhiri kegiatan inti pelajaran.
Siasat membuka
pelajaran bertujuan pokok menyiapkan mental anak didik agar siap memasuki
persoalan yang akan dipelajari atau dibicarakan, menimbulkan minat serta
pemusatan perhatian anak didik pada yang akan dibicarakan dalam kegiatan
interaksi edukatif.
Usaha menutup
pelajaran dimaksudkan untuk memberi gambaran menyeluruh tentang apa yang telah
dipelajari anak didik, mengetahui tingkat pencapaian anak didik dan tingkat
keberhasilan guru dalam proses interaksi edukatif.
6.
Keterampilan
Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas
adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi
edukatif.
Setiap guru masuk
ke dalam kelas, maka pada saat itu pula ia menghadapi dua masalah pokok, yaitu
masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran adalah usaha
membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung.
Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi sedemikian rupa, sehingga proses interaksi edukatif dapat berlangsung
secara efektif dan efisien.
7.
Keterampilan
Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok
kecil sangat bermanfaat untuk memberikan pengalaman pendidikan bagi anak didik
yang terlibat didalamnya. Potensi yang berpengaruh terhadap partisipasi seperti
saling memberi informasi, dapat mengeksplorasi gagasan, meningkatkan pemahaman
baru terhadap hal-hal yang bermanfaat, dapat membantu menilai dan memecahkan
masalah, mendorong pengembangan berpikir dan berkomunikasi secara efektif, semuanya
mempersiapkan anak didik untuk berpartisipasi secara efektif dalam kelompok
untuk keterampilan hari depan mereka dalam masyarakat dan dalam
kegiatan-kegiatan sosial.
Yang perlu
diperhatikan guruu dalam diskusi kelompok kecil agar dapat efektif dan efisien
adalah guru harus menjalankan fungsinya sebagai pembimbing.
8.
Keterampilan
Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengelompokan anak
didik dalam proses interaksi edukatif merupakan pembentukan organisasi sosial
dalam pengajaran.
Pengajaran perorangan
diartikan sebagai suatu proses dimana setiap anak didik dibantu mengembangkan
kemajuan dalam mencapai tujuan berdasarkan kemampuan, pendekatan dan bahan
pelajaran.
Salah satu prinsip
pengajaran kelompok kecil dan perorangan adalah terjadinya hubungan yang akrab
dan sehat antara guru dengan anak didik dan antara anak didik dengan anak
didik. Hal ini dapat terwujud bila guru memiliki keterampilan berkomunikasi
secara pribadi dengan setiap anak didik.[6]
BAB III
PENUTUP
Metode mengajar adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara kelompok, agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.
Metode mengajar adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara kelompok, agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.
Macam-macam metode belajar mengajar:
metode belajar mengajar konvensional dan metode belajar mengajar
inkonvensional.
Keterampilan dasar mengajar
meliputi:
1.
Keterampilan
memberi penguatan (Reinforcement)
2.
Keterampilan
bertanya
3.
Keterampilan
variasi
4.
Keterampilan
menjelaskan
5.
Keterampilan
membuka dan menutup pelajaran
6.
Keterampilan
mengelola kelas
7.
Keterampilan
membimbing diskusi kelompok kecil
8.
Keterampilan
mengajar kelompok kecil dan perorangan
Semoga makalah ini bisa bermanfaat
untuk kita semua. Khususnya bagi calon guru.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
Abu dan Joko Tri Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV
Pustaka Setia.
Djamarah,
Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Djamarah,
Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Fathurrahman,
Pupuh dan Sobry Sutikno. 2009. Strategi Belajar Mengajar – Strategi
Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep
Islami. Bandung: PT Refika Aditama.
Mustakim,
Zaenal. 2011. Strategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN
Pekalongan Press.
Langganan:
Komentar (Atom)
